Thursday, October 1, 2026
spot_img
HomeTokohAbdurrohman bin Tamyis Sosok Kyai yang arif bijaksana

Abdurrohman bin Tamyis Sosok Kyai yang arif bijaksana

Jombang.warsanusantara.com – Pemilik nama Abdul Hamdi, lahirkan pada tahun 1886 M, anak ketiga dari Kyai Tamyis dan Nyai Chomsiyah binti Abdul Karim. Konon berdasarakan sumber cerita dari jalur ibu masih keturunan Sunan Sendang Duwur, Paciran, Lamongan sedangkan jalur ayah keturunan Demak lewat jalur Pajang.

Nama Abdurrahman disematkan setelah pulang haji pertama kali, sebelum kemudian menikahi seorang gadis asal dempok, cukir yang bernama Siti Fatimah. sebagian sumber mengatakan saat menikah Abdurrohman berusia 17 tahun sedangkan Siti Fatimah berusia 14 tahun.

Abdurrahman muda mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya, kemudian dikirim mondok di pesantren Dempok Cukir hingga akhirnya diambil menantu oleh Kyainya sendiri. Setelah menikah menetap di Dusun Bulak, Mojokrapak. Kegiatan sehari-harinya bertani diladang miliknya sendiri sambil membantu mengembangkan usaha milik sang ayah.

Abdurrahman adalah seorang pemuda yang alim, sejak muda setiap habis sholat maghrib mengajar ngaji penduduk setempat di musholah depan rumahnya. Sedangkan rutinan  pengajian kitab dilakukan selepas sholat subuh diruang tamu rumah sederhananya.

Dari pernikahan Abdurrahman dengan Siti Fatimah dikaruniai 12 putra dan putri. 2 diantaranya meninggal masih usia anak-anak. Anak pertama diberi nama Badjuri, selanjutnya berturut-turut diberi nama Siti Rochmah, Siti Chalimah, Abdul Djalil, Abdul Manan, Muslikhah, Mutmainah, Abdul Mujib, Machsunah, dan Siti Zulaikhah.

Abdurrahman dikenal kaya untuk ukur masa itu, Sawahnya berhektar-hektar tersebar di beberapa tempat bahkan banyak yang diluar desa mojokrapak. Bersama saudara-saudaranya juga meneruskan usaha pembuatan benang nila milik ayahnya.

Menurut cerita salah satu cucunya yang bernama Zulfatul Kamilah, benang nila hasil produksi dipasarkan hingga Lamongan, Tuban dan Gresik dengan sistem jual langsung maupun barter dengan barang kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan usaha bahkan tidak jarang dibarter dengan ikan klotok serta bahan pokok makanan lain.

Cucunya yang lain bernama Siti Ma’munah, menceritakan kalau Kyai Abdurohman dikenal sebagai seorang kaya dan dermawan. Setiap kali panen selalu membagikan zakat Mall ke fakir miskin warga desa Mojokrapak bahkan hingga ke desa sidomulyo dan beweh yang sekarang berada diwilayah Megaluh. setiap hari raya idul adha, Abdurrohamn selalu korban beberapa ekor kambing dan dagingnya dibagikan ke masyarakat sekitar.

Baca Juga:  Ida Inayahwati, Guru sekaligus Penulis Buku Ajar yang karyanya dipakai Madrasah Aliyah Seluruh Indonesia

Tidak heran kalau dianggap kaya, karena pada saat itu di Desa Mojokrapak hanya ada 2 orang yang memiliki radio yaitu (Kepala Desa Darmo Gandul dan Mbah Abdurrohman) karena mahal harganya sehingga Radio menjadi barang langka, satu radio seharga 1 ton beras.

Pada saat perjuangan melawan Belanda, rumah Abdurrohman ramai dipenuhi orang dan para siswa Sekolah Rakyat (SR) Mojokrapak untuk secara langsung mendengarkan pidato Presiden Soekarno yang kala itu itu berpidato membakar semangat raykat Indonesia untuk bangkit mengusir penjajah.

Dalam kehidupan dimasyarakat beliau dikenal sebagai seorang yang alim dan sederhana, menurut sumber cerita KH. Masduqi Mahfud, Mbah Abdurrohman itu kalau menjadi imam sholat subuh istiqomah membaca ayat yang panjang surat Sajadah pada rekaan pertama disambung surat waqiah pada rekaan keduanya.

Saat mudanya Kyai Abdurohman juga terkenal sakti pilih tanding. Koleksi keris bertuahnya banyak memenuhi ruang rumahnya yang didapat secara ghaib datang sendiri. Setiap jamasan satu suro sampai harus meminta bantuan orang lain untuk membersihkan keris-keris tersebut.

Ada sebuah cerita yang disampaikan cucu mbah abdurrohman yang bernama Imron Rosyadi,  “konon di dusun Beweh, desa ngogri ada ‘Grumbul’ (pohon besar yang dipercaya angker), tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya, pohon-pohon besar tumbuh rimbun menandakan tidak terjamah tangan manusia. Mbah Abdurrohman kemudian mendatangi tempat itu dan menebang pohon-pohon besar tanpa rasa takut hingga membuat warga sekitar takjub. Sebagian masyarakat sempat melarang, karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan namun mbah Abdurrohman tetap menebang hingga daerah itu terlihat bersih.

Melihat tidak terjadi apa-apa pada Abdurrohman, masyarakat Dusun Beweh akhirnya mengakui kehebatan dan keberanian Abdurrohman. Cerita beberapa orang dusun beweh, sering melihat sosok mirip Abdurrohman keliling mengitari sawah-sawah miliknya walaupun malam hari, padahal beliau pernah ditanya saat malam tidak pernah kesawah apalagi jarak bulak dan beweh hampir 10 Km.

Baca Juga:  Komitmen Kepala UPTD-PPA : Jombang zero kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak
Foto KH. Abdurrohman hasil restorasi menggunakan aplikasi AI.

Abdurrochman adalah sosok yang sayang anak (sumber Ma’munah) setiap habis maghrib sebelum mengajar ngaji beliau selalu meminta cucu-cucunya ( ma’munah, umroh dan fatim) untuk memijat punggungnya dengan iming-iming diberi uang kalau sudah selesai. Bertiga para cucunya dengan riang memijat sambil bermain-main dipunggung kakeknya. Lain waktu Abdurrochman bercanda dengan cucu-cucunya yang lain di halaman masjid hingga hubungan kakek dengan para cucunya sangat dekat.

Apalagi hubungan dengan Abdurrohim (cucu pertamanya) sungguh sangat dekat bahkan bisa dibilang cucu paling disayang. Sehingga tidak heran saat mbah Abdurrohman meninggal, cucunya yang bernama Abdurrochim Bin Badjuri menangis sejadi-jadinya dan membawa cangkul hendak membongkar makam, seakan tidak rela kakeknya pergi meninggalkannya. cucu lain Nur Cholis juga menangis sejadi-jadinya sambil berguling- guling ditanah meratapi kepergian sang kakek yang sangat dekat dihati para cucu-cucunya.

Kyai Abdurrohman meninggal di usia hampir 70 Tahun, beliau meninggal setelah hampir 2 bulan sakit. Pernah suatu ketika saat dimandikan beliau berujar “ opo iki sing disebut naza’, nek naza’ kok suwi” (apa ini yang disebut sakaratul maut, kalau benar kenapa lama). Berawal dari jatuh saat pergi kesawah menyebabkan sakit hingga wafatnya.

Makam KH. Abdurrohman di areal makam keluarga Bulak, Mojokrapak.

Tanggal 22 Mei 1964 beliau meninggal dunia. Sebelum meninggal semua anak-anaknya diminta kumpul dirumah bahkan beliau sempat membagi-bagi sawah miliknya kepada putra-putrinya secara adil. Jam 10.00 WIB beliau meninggal dunia dipangkuan putra pertamanya Bajuri.

Sebelum meninggal KH. Abdurrohman sempat berpesan kepada putra ke empatnya Abdul Djalil untuk membeli “maesan” (batu nisan), menantunya yang bernama Juwariyah diminta membelikan kain kafan.

Selanjutnya beliau berpesan amanah bahwa kegiatan rutin pengajian di musholah harus terus dihidupkan dan yang dipasrahi bertanggung jawab mengajar ngaji adalah cucunya yang bernama  Ali Tsauri Bin Abdul Djalil, sebagai Imam mushola ditunjuk Putra beliau Abdul Djalil dan pimpinan Toriqot Naqsabandiyah ditunjuk Abdul Manan untuk melanjutkannya. Bahkan juga berwasiat jenazahnya harus diangkat oleh cucu-cucunya tidak merepotkan orang lain. (*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments