Saturday, September 5, 2026
spot_img
HomeJombangSosok teladan Kyai Chusni, Kiai kampung yang sederhana dan rendah hati

Sosok teladan Kyai Chusni, Kiai kampung yang sederhana dan rendah hati

Jombang.warsanusantara.com – Kyai Chusni adalah kiai kampung yang turut mencetak kiai-kiai besar yang sekarang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut informasi Kyai Chusni Bin Thohir termasuk dewan pendiri sekaligus guru di Madrasyah Muallimin Tambakberas sejak awal berdiri tahun 1953.

Lahir di Dusun Kapas, desa Dukuhklopo, Jombang sebagian pendapat mengatakan tahun 1902 M namun ada yang menyebutkan 1905 M, beliau anak kedua dari pasangan Kyai Thohir Idris dan Nyai Siti Layyinah.

Dari jalur ayah, Kyai Chusni adalah cucu dari Kyai Idris umar yang menurut sebagian cerita adalah laskar pengikut Pangeran Diponegoro, yang kemudian menetap hingga wafat dan dimakamkan di belakang masjid yang sekarang bernama Baitul Muttaqin Kapas, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Jombang.

Silsilah nasab dari jalur ayah bersambung ke Pangeran Benowo, Putra Raden Hadiwijaya (Joko Tingkir). namanya tidak semashur Kyai Fattah Hasyim adk sepupunya atau Kyai Abdul Djalil adik iparnya.

Kyai Chusni bin Thohir menikah dengan Nyai Siti Halimah binti Abdurrohman dari Mojokrapak yang konon masih keturunan sendang duwur lamongan. Dari pernikahannya dikaruniai 12 anak, dua diantaranya meninggal saat masih kecil.

Kyai Chusni memiliki hubungan dekat dengan Kyai Fattah Hasyim karena disamping masih bertalian saudara, Kyai Chusni juga sering menjadi guru badal jika Kyai Fattah berhalangan atau sedang tidak sehat. Sejak muda Kyai Chusni mengabdikan diri sebagai pendidik di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, namanya tercatat sebagai pendiri sekaligus guru di Madrasah Muallimin Muallimat Tambakberas Jombang.

Foto (hijau) Makam Kyai Chusni di areal makam keluarga Kyai Tamyiz dan para dzurriyyahnya di Bulak, Mojokrapak.

Kyai Chusni wafat, malam 17 Agustus 1970 atau 24 Jumadhil Akhir 1390 H, setelah sholat Maghrib dan dimakamkan di Bulak Mojokrapak. Ada peristiwa tidak biasa, malam menjelang wafatnya Kyai Chusni, menurut cerita salah satu putrinya Zulfatul Kamilah ayahnya sore hari sudah meminta masyarakat yang rumahnya berada sepanjang jalan menuju mushola menyalakan lampu petromak (lampu berbahan bakar minyak) didepan rumah dengan alasan biar semarak dan terang karena mau ada tamu dari jauh.

Baca Juga:  Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang dibuka langsung Presiden RI, Berikut Jadwal Lengkapnya.

Masyarakat menuruti karena ketokohan Kyai Chusni di wilayah itu tanpa bertanya apa-apa, dan pada saat meninggal orang baru menyadari ‘pesan’ itu.

Makam Kyai Chusni Bin Thohir, Wafat 17 Agustus 1970 / 24 Jumadil Akhir 1390 H.

Menurut Taufiq Djalil keponakannya, saat pemakaman tidak ada yang berani mentalkin, saling lempar permohonan antara Kyai Abdul Djalil dan Kyai Fattah Hasyim karena merasa sama-sama tidak memiliki keberanian untuk mentalkin sosok Alim Kyai Chusni.

Saat meninggal banyak petakziyah, bahkan sholat jenazah dilakukan hingga berkali-kali secara bergelombang. tidak sedikit yang datang dari luar daerah, ini menunjukkan ketokohan dan kiprahnya yang besar bagi masyarakat. Jenazahnya dimakamkan di makam keluarga yang berada didepan masjid bulak, Mojokrapak.

Dalam satu kesempatan KH. Abdurrahman Wahid, saat masih menjabat sebagai presiden RI,  dalam sambutannya pada acara Khaflah Pondok pesantren Bahrul Ulum, secara khusus menceritakan tentang kenangannya terhadap Kyai Husni sebagai sosok guru yang sederhana, santun dan arif.

Menurut Gus Dur, Kyai Chusni dalam mendidik bisa memberikan teladan kepada murid-muridnya. Salah satu yang masih diingat oleh Presiden Gus Dur kala itu adalah saat mengajar ada murid yang tidur, bukan kemarahan yang ditunjukkan, tapi belaian kasih sayang yang dilakukan sang Kyai dengan pesan santun “kalau memang capek, dilanjutkan saja tidurnya mboten nopo-nopo”. Ungkap gus Dur.

Lebih lanjut Gus Dur menyampaikan, Pernah satu hari saat beliau berangkat mengajar menaiki sepeda hordok (onthel kuno), saat memasuki gerbang pesantren ada kerumunan santri sedang berjalan kaki menuju sekolahan, “beliau turun dari sepeda dan menuntunnya sambil menyapa satu persatu murid-muridnya degan santun”, Kenang Gus Dur.

Gus Dur dan para santri lain saat itu sering meminta waktu tambahan untuk ngaji dengan mendatangi rumah Kyai Chusni di Ngledok, Mojokrapak. Bertempat di musholah depan rumah dilakukan pengajian kitab selepas sholat maghrib dan itu berjalan hingga gus dur lulus Muallimin.

Baca Juga:  Hari ini Bupati Jombang melauching Kegiatan Fisik satuan pendidikan di Kabupaten Jombang.

Begitulah ungkapan kekaguman Gus Dur kepada sosok Kyai Chusni, bahkan saking terkesannya, hampir 15 menit gus dur menceritakan keteladanan Kyai Chusni di depan hadirin.

Selepas acara, protocol kepresidenan sempat mengabarkan bahwa gus Dur akan berziarah ke makam Kyai Chusni, namun mendadak dibatalkan karena ada kunjungan kenegaraan dari Perdana menteri jepang di istana, sehingga saat itu juga Gus Dur langsung bertolak ke Jakarta.(*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments