Saturday, August 29, 2026
spot_img
HomeJombangMengenang Sosok dan Perjuangan Kiai Abdul Djalil Bin Abdurrohman Mojokrapak

Mengenang Sosok dan Perjuangan Kiai Abdul Djalil Bin Abdurrohman Mojokrapak

Jombang,warsanusantara.com – Pemilik nama Muhammad Arif pada masa kecilnya, menginjak dewasa berganti nama menjadi Abdul Djalil. Lahir dari keluarga religius terpandang didaerah Mojokrapak, anak ke empat dari Kiai Abdurrahman dan Nyai Fatimah.

Abdul Djalil lahir di Mojokrapak pada tanggal 17 Juli 1920 M, bertepatan dengan penanggalan islam 1 Dzulqo’dah 1339 H. cucu dari Kiai Tamyiz yang konon berasal dari Demak.

Saat berusia 7 tahun Abdul Djalil masuk sekolah rakyat (SR).  Setelah lulus kemudian melanjutkan sekolah sekalian mondok di Pondok Pesantren seblak yang diasuh Kiai Machfudz Anwar. Berikutnya mondok di Tebuireng yang diasuh Kiai Hasyim Asy’ari.

Saat menempuh pendidikan di pondok pesantren, Palajaran yang paling disukai adalah ilmu Falak (astronomi islam) dan Arudl (sastra/Metrum Puisi Arab), sehingga kemudian dikenal sebagai sebagai ahli Falak, Nahwu dan Faraidl.

Setelah menamatkan sekolah dan pondok Tebuireng, Abdul Djalil di perintah ayahnya pergi haji sekaligus belajar di Tanah Haram Makkah. Pada tahun ke dua haji terpaksa memutuskan pulang ke tanah air karena maraknya gerakan Wahabi di Makkah. Tahun 1940 kembali kembali menimba ilmu di pondok KH Machfudz Salam Kajen Pati Jawa Tengah. Lima tahun kemudian melanjutkan mondok di Trowulan untuk memperdalam ilmu Falak dibawah asuhan KH Dimyati.

Foto Kiai Abdul Djalil dan nyai Sholihah Binti Kiai Muhammad Arif, Balongrejo, Sumobito, Jombang. (dok. Keluarga)

Pada tahun yang sama saat masih nyantri, Abdul Djalil menikah dengan seorang gadis yang bernama Sholihah putri KH Muhammad Arif dari dusun Balongrejo. Dari pernikahan itu beliau dikaruniai 13 putra putri salah satu putranya yang bernama Taufiq Abdul Jalil, yang kelak dikemudian harinya menjadi Kepala kementrian Agama Kabupaten Jombang periode tahun 2019 – 2020 sebelum akhirnya di mutasi menjadi kepala Kemenag Blitar.

Sosok KH Abdul Djalil dikenal sebagai guru teladan, sangat disiplin serta istiqomah. Beliau merupakan salah satu peletak dasar sistem pembelajaran di Madrasah Muallimin Muallimat sehingga dalam perjalanannya pada tahun 1983 ditunjuk menjadi kepala Madrasah menggantikan KH Amanullah AR.

Baca Juga:  Nasib Tirta Wisata Keplaksari yang terbengkalai

Abdul Djalil meninggal pada tanggal 29 Robi’ul Akhir 1418 H atau bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1998 dimakamkan di Makam keluarga yang berada tepat didepan rumahnya.

Foto Makam KH. Abdul Djalil Bin Abdurrohman di Dusun Bulak, Mojokrapak.

Menengok keteladannya, Salah satu mantan murid MMA, Kiai Hasan Hasibuan yang sekarang menjadi pengasuh Pondok Pesantren As-Sa’idiyyah 2 Bahrul Ulum. Mengenang sosok KH Abdul djalil sebagai guru panutan yang luar biasa disiplin, sabar dan istiqomah.

“Perjuangan KH Abdul Djalil untuk Madrasah Muallimin Muallimat sangat luar biasa. Beliau itu sangat disiplin waktu, pro-aktif dan begitu konsisten serta kokoh memegang prinsip”, ungkap Kiai Hasan dalam sambutannya saat Haul ke 20 di Ndalem kasepuhan Mojokrapak.

Lebih lanjut, Kiai Hasan menyampaikan, “Kita jangan sekali-sekali melupakan sejarah dan semoga dengan diselenggarakannya haul ini kita selalu termotivasi untuk meneladani kedisiplinan dan keistiqomahan Kiai Djalil”. Pintanya.

Sosok KH. Abdul Djalil merupakan salah satu guru besar di Tambakberas, atau guru dari semua guru, yang sekarang memegang estafet pembelajaran di Madrasah Muallimin Muallimat

Melansir Muallimin enam tahun.net, KH Abdul Djalil terkenal sebagai Kiai yang aktif menulis, banyak kitab karyanya yang masih dipakai hingga saat ini di Muallimin Muallimat bahrul Ulum Tambakberas.  Diantaranya berbagai fan ilmu, serta berbagai Taqrirot, antara lain:

  1. Pada fan ilmu Nahwu, berupa Nadzom Alfiyah Ibnu Malik karya Imam Ibnu Malik yang oleh kiai Djalil dijabarkan dengan jadawil/tabel. terdiri dari 2 jilid.
  2. Pada Fan ilmu Faraidl, Kiai Djalil menulis penjelasan Nadzom Iddatul Farid karya imam Sa’id bin Sa’ad al-Hadromy.
  3. Pada fan ilmu Arudl, Kiai Djalil menulis penjelasan kitab Mukhtashor Syafi karya Syekh Muhammad Ad Damanhuri.
  4. Pada Fan ilmu Falak, kiai Djalil menulis dua kitab penjabaran. Sebagai penjelasan Sullamun  Nayyiroyn. Satu kitab karya Kiai Djalil, berupa kalam natsar dan satu kitab khusus tabel latihan soal ilmu Falak.
Baca Juga:  Seorang Remaja muda yang menghilangan nyawa bayi yang dilahirkannya; di Vonis 5 Tahun oleh Majelis Hakim PN Jombang

Kitab taqrirot disusun oleh Kiai Abdul Djalil untuk memudahkan para santri dalam belajar dengan menuliskan keterangan dari pelajaran yang diberikan oleh guru tanpa menukil teks kitan syarah tapi langsung disajikan dalam bentuk table (metode mind mapping) atau peta pikiran untuk mempermudah belajar santri.

Ini yang membedakan taqrirot karya Kiai Abdul Djalil dengan taqrirot pada umumnya yang biasanya mencukupkan diri dengan menukil redaksi sebagian isi kitab syarah. Metode ini disusun berdasarkan pengalamannya saat nyantri di Pondok pesantren Tebuireng Jombang. (*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments