Monday, May 4, 2026
spot_img
HomeJombangBedander, Kabuh tempat bersejarah: tersebut dalam kitab Pararaton sebagai tempat persembunyian Raja...

Bedander, Kabuh tempat bersejarah: tersebut dalam kitab Pararaton sebagai tempat persembunyian Raja Majapahit

Warsanusantara.com – Pada saat berdirinya kerajaan Majapahit, setelah tumbangnya Jayakatwang dari gelang-gelang, majapahit terus dirundung perpecahan yang disebabkan ulah hasutan Mahapatih Dyah Halayuda. Pemberontakan terjadi sejak Raden Wijaya naik tahta hingga digantikan putranya Jayanegara yang memerintah tahun 1309-1328 masehi.

Jayanegara Putra Raden Wijaya dari selir berdarah Melayu, Dara Petak menjadi raja muda ‘Yuwaraja’ di Kediri 1295 masehi dan naik tahta di Majapahit tahun 1309 masehi bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara, dikenal sebagai raja yang lemah, suka berfoya-foya dengan wanita dan sewenang-wenang. Sikap itu yang menyulut api pemberontakan Ra Kuti pada 1319 masehi.

Jayanegara memperlakukan Dharmaputra dengan sewenang-wenang ditambah prilaku raja yang menggoda dan melecehkan istri Ra Kuti yang bernama Sitangsu di istana kapopongan. Ra Kuti marah dan akhirnya memberontak.

Tercatat dalam serat Pararaton, Pemberontakan Ra Kuti adalah satu-satunya pemberontakan yang berhasil menguasai kota raja dan naik singgasana raja. Demi keselamatan Raja, Jayanegara terpaksa dilarikan pasukan Bhayangkara yang dipimpin  Gajah Mada, mengungsi ke bedander yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.

Konon sebelum menjadi prajurit majapahit, Gajah Mada pernah berguru ke seorang sakti penguasa pertikan bedander yang bernama Ki Blander letaknya setengah hari berkuda dari Kotaraja. Untuk menuju tempat itu harus meyeberangai sungai bantas, karena lokasinya terpencil dan tidak jauh dari kotaraja, Gajah Mada menganggap aman sebagai tempat persembunyian Jayanegara untuk sementara sambil menyusun strategi menyerang kembali ke istana.

Gajah Mada mohon ijin kepada Ki Blander penguasa bedander untuk Jayanegara dan keluarga  tinggal sementara dirumahnya, rumah itu konon akhirnya disebut kedaton bedander yang sekarang dikenal dengan situs jeladri.

Baca Juga:  Akhir Damai, Seteru Melon 6 ribuan di Jogoroto
Situs jeladri terletak di ketinggian 65 mdpl sekarang masuk wilayah desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.

Situs Jeladri terletak di Dusun Bedander, Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh, Jombang. memiliki ketinggian 65 mdpl diatas permukaan laut. Kampung ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan.

Kalau kita berkunjung ke Situs Jeladri atau Situs Bedander, kita akan disambut sebuah gapura. batu andesit lonjong di sisi kiri dan kanan tangga batu. Area situs ini berupa tanah lapang yang dikelilingi pepohonan besar-besar yang sangat rindang.

Rindangnya pepohonan mengayomi struktur bata merah kuno berbentuk persegi layaknya pondasi rumah. Luas struktur sekitar 30 meter persegi. Melewati gapura, pengunjung akan menemukan 4 bangunan cungkup. Di dalamnya terdapat sejumlah makam kuno yang setiap batu nisannya dibungkus kain putih.

Budayawan setempat Dian Sukarno meyakini Situs Bedander menjadi tempat pelarian Raja Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti. Struktur purbakala di dalamnya konon sisa-sisa bangunan tempat tinggal sang raja.

Ra Kuti adalah salah seorang Dharmaputra yang dibentuk raja pertama Majapahit, Raden Wijaya. Dharmaputra yang beranggotakan 7 orang menjadi pegawai istimewa di kerajaan. Pada 1319 masehi, Ra Kuti dan pasukannya menyerbu keraton Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

“Gajah Mada sebagai pengawal raja bersama 15 pasukan Bhayangkara membawa raja bersembunyi di Bedander,” kata Dian.

suasana rindang kedaton bedander seluas 30 meter persegi.

Selain struktur purbakala yang masih tersisa, keyakinan Dian terkait Situs Bedander juga ditunjang cerita rakyat setempat. “Bedander menjadi tempat pelarian Jayanegara berdasarkan cerita rakyat. Juga ada peninggalan situs-situsnya, seperti pager banon itu juga masih ada,” terangnya.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Wicaksono Dwi Nugroho menjelaskan, pelarian Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti ke Bedander ternyata tersurat di Kitab Pararaton.

“Situs Bedander itu kaitannya dengan nama Bedander. Itu pernah menjadi tempat pelariannya Raja Jayanegara saat keratonnya diserang. Yang menyelamatkan itu adalah pasukan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada,” jelasnya.

Baca Juga:  Gangster Remaja yang terafiliasi perguruan silat, kembali berulah di kota Jombang

Menurut Wicaksono Situs Bedander pernah diteliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sekitar tahun 2008. Penelitian itu menemukan bekas-bekas permukiman yang diyakini menjadi tempat persembunyian Raja Jayanegara. Temuan-temuan tersebut berupa umpak, struktur bangunan dari bata merah kuno hingga fragmen porselen dari Dinasti Song hingga Yuan.

“Mungkin di situ dulu ada pemukiman, tapi Bedander itu kalau benar lebih seperti kedaton kecil dari penguasa daerah situ. Cuman belum dieksplor lagi,” tandasnya.(*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments