Warsanusantara.com – Keunikan desa Manduro, kecamatan Kabuh menarik untuk ditelisik. Pasalnya masyarakat warga desa Manduro menggunakan logat bahasa yang mirip bahasa Madura. Logat bahasa yang berbeda dengan masyarakat jombang pada umumnya.
Secara geografis, Manduro berada di Kabupaten Jombang bagian utara, masuk wilayah Kecamatan Kabuh, 30 Kilometer dari pusat Kota Jombang lokasinya yang berada diketinggian 44 meter diatas permukaan laut (mdpl), wilayah tertingginya digunakan sebagai markas Satradar 222 AURI.

Menurut cerita turun-temurun, orang Manduro diyakini sebagai keturunan prajurit Kerajaan Majapahit yang berasal dari Madura ada sebagaian cerita yang menyatakan berasal dari prajurit Lamajang yag ditugaskan Arya wiraraja membantu Majapahit.
Itu berarti keberadaan masyarakat desa Manduro sudah ada sejak 500 tahun lalu. Saat kerajaan majapahit runtun para prajuritnya melarikan diri menyebar salah satunya tinggal menetap di daerah yang kini bernama Manduro.
Kepala desa Manduro, Jamilun, menyebut keberadaan mereka bukan kebetulan sejarah, tapi jejak panjang yang masih hidup sampai hari ini.
“Orang Manduro itu asalnya dulu adalah prajurit dari Majapahit. Keberadaannya sudah sekitar 500 tahun,” ujarnya.

Salah satu bukti sejarah yang diyakini masyarakat adalah makam Buyut Niko, masyarakat mempercayainya sebagai tokoh yang menjadi cikal bakal Manduro. Buyut Niko bersama istrinya menetap di wilayah yang kini bernama Manduro dan beranak-pinak yang sampai sekarang jumlahnya sudah lebih dari 3.500 jiwa.
“Tokoh yang disebut masyarakat bernama Buyut Niko ini memiliki gelar Tuan Nata. kalau digali dari kitab Pararaton, gelar Nata itu adalah penguasa setingkat dengan Bhre atau Adipati,” jelas Jamilun.
Hanya saja, Jamilun tidak bisa memastikan buyut Niko yang bergelar Tuan Nata itu adalah penguasa wilayah daerah mana saat era kerajaan Majapahit.
“Kalau itu saya nggak begitu tahu. Yang jelas, orang Manduro berasal dari dua orang tersebut (Buyut Niko dan istrinya) yang bergelar Tuan Nata,” katanya.
Nama Manduro sendiri baru diresmikan sekitar tahun 1913–1914, atau tiga tahun setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang resmi berdiri pada 1910 setelah berpisah dari Kabupaten Mojokerto.
Menurut Jamilun, yang meresmikan nama desa Manduro adalah Carik Wayo. Sebelumnya, desa ini bernama Mandurorejo. Dalam versi lain penamaan Manduro diambil dari simbol nama pewayangan yaitu keturunan dari Mandura yang merujuk pada perjalanan Prabu Kuntibejo
Makam Buyut Niko hingga saat ini ramai dikunjugi peziarah terutama pada hari-hari tertentu.
Disisi lain Manduro juga punya jejak peninggalan yang berupa punden di Gunung Kemendung, Sendang Weji, dan Situs Jeladri yang pernah menjadi tempat disembunyikannya Raja Jayanegara saat terjadi pemberontakan Ra Kuti tahun 1319 Masehi. Dalam kitab pararaton dikenal dengan nama Bedander.

Lokasi situsnya berbatasan dengan Dusun Bedander. Yang saat ini masuk wilayah Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh. Masyarakat manduro hingga saat ini masih melestarikan kesenian tradisional Sandur peninggalan nenekmoyang.
Sandur Manduro adalah kesenian teater rakyat tradisional yang menggabungkan drama tari, topeng, dan nyanyian dengan nuansa sakral, sering kali menggunakan bahasa Madura. Ciri khas kesenian sandur manduro saat pertunjukkan sering mengenakan topeng, Jepaplok Manuk, Celeng, dan Sapen hal ini yang membedakannya dengan sandur Bojonegoro.
Tahun 2017 kesenian Sandur Manduro ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kemendikbud RI. (*)

