Adalah Milatuzzakiyah (36), perempuan asal Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, kabupaten Jombang. Mila panggilan akrabnya putri sulung pasangan Abdul Rozaq husni dan Siti Mahmudah, kini sedang menempuh pendidikan Program Doktoral atas beasiswa dari Universitas Brawijaya 2025. Ibu dua anak Fahima Bi Aksara Himada dan Embun iliya Maflahi ini mengambil program studi Sains Sosial dan Kemanusiaan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
Sebuah kampus ternama di Negara bagian Selangor Malaysia. dia menuturkan pengalaman pertamanya menjalani Ramadhan di Negara bagian Malaysia yang dikenal dengan sebutan ‘Darul Ehsan’.
Kepada Tim media ia menceritakan pengalamannya saat menginjakkan kaki pertama di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) Malaysia. Saat menaiki taksi dari bandara menuju apartemen, sang sopir antusias mengajak berbincang persoalan beda penentuan Idul Fitri antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Persoalan di Indonesia yang dari tahun ketahun selalu memicu polemik, tidak pernah sepakat satu komando.
“Sejak pertama naik taksi dari bandara, sopir taksi saya, seorang mahasiswa yang nyambi nge-grab, ia bercerita pada saya, “Akak, di Indonesia bila puasa dan raya (hari Raya.Red) boleh beza ya? Ada yang ikut Muhammadiyah ada yang ikut NU atau pemerintahan ya, Kak?”, saya tersenyum dan mengangguk. “Bagaimana di Malaysia?” tanya saya. “Takda beza, Akak. Keputusan puasa dan raya ditetapkan oleh Kerajaan. Semua sama,” jawabnya.
Pertanyaan serupa saya dapatkan dari supervisor saya. “Di Indonesia, Islamnya ada dua kan? NU dan Muhammadiyah? Puasanya beza ya kemarin? Gimana raya? Beza jugakah?” Saya kembali mengangguk. “Raya mungkin beza, mungkin tak, Prof, kita tunggu hasil sidang isbat di penghujung Ramadhan kelak”.
“Kamu ikut siapa kak?” “Saya NU, Prof. Biasanya ikut pemerintah saja, Prof.” Saya jawab singkat dan melanjutkan pembimbingan pertama.
Setelah berdiskusi panjang, Pulangnya saya dioleh-olehi tiga kotak bubur lambuk di jam 12 siang, bahkan Dzuhur pun belum masuk waktunya. “Buat kamu satu, bagi ke teman kosmu dan satu teman kelasmu kemarin,” pesan supervisor saya.
Saya pikir dengan tidak ada dualisme ala NU-Muhammadiyah yang hangat tiap-tiap Ramadhan dan Syawal, puasa dan lebaran di sini bakal sama saja dengan di Indonesia.
Saya kira, inikan satu rumpun Nusantara yang mayoritas muslim. Tetapi saya salah. Di Malaysia, ketiadaan diskusi hangat ini artinya tidak ada diskusi sama sekali. Tidak ada perbincangan hangat hingga panas, kita pakai hisab atau tidak, maupun tarawih cepat 20+3 rekaat, atau lama dengan 8+3 rekaat.
Saking senyapnya, saya tiba-tiba berpikir, ternyata keriuhan Indonesia yang ‘resek’ banget, mengurusi hal kecil receh itu sangat dirindukan.
Di Malaysia tidak ada toa (Speaker.Red) yang riuh membangunkan sahur, tidak ada patrol sahur, tidak ada tadarrus dengan pengeras suara. Hanya ada bazar Ramadhan yang barangkali mirip dengan pasar takjil setiap sore di pinggir jalan di Indonesia, namun tertata rapi, higienis dan tertib.

Mulanya saya menduga barangkali hanya pergaulan saya sebagai mahasiswa baru yang kurang luas. Malam takbir kemarin akhirnya saya keluar dari flat dengan teman, naik bus ke kampus. Saat waktu maghrib tiba. Kami sebenarnya sekadar ingin mencari penganan buka puasa.
Saat kaki mendekati masjid kampus, saya tunggu-tunggu suara takbir dari speaker masjid kampus. Pelan-pelan saya dengar, tapi hanya beberapa kali kemudian hilang. Barangkali hanya 3 atau 4x putaran kalimat-kalimat takbir, setelah itu senyap tidak terdengar lagi berkumandang mengunakan toa eksternal.
Saya berjalan menuju jalan raya, karena bis terakhir sudah lewat. Saya tajamkan telinga saya sekali lagi, kosong. Senyap. Tidak ada kumandang takbir raya. Tiba-tiba suara kembang api bersahutan di langit. Terus menerus dan tidak berhenti, hingga memekakkan telinga.
“Ini kenapa ada kembang api terus menerus?” tanya saya pada teman yang lebih dulu studi di sini. “Itu kembang api sepanjang Ramadhan dan bakal sepanjang malam kita dengarkan. Begini perayaan malam lebaran di sini.
” Saya menatap langit yang meriah dengan hujan kembang api dari berbagai titik sembil menahan haru tiba-tiba teringat kedua putri saya di Indonesia.
Ternyata, keramaian lebaran di Indonesia tidak ada obatnya. “Tapi biasanya sebulanan di sini bakal ada open house, kita coba cek besok atau lusa,” lanjut teman saya.
Saya kembali berjalan menyusuri jalan raya Kembali ke flat yang tidak bisa dikatakan sepi, tetapi tidak juga ramai. Sebagian besar warga lokal telah balik kampung memang dan tersisa warga perantau dari China, Indonesia, dan India di kota kecil tempat saya tinggal.
Dalam hati saya bergumam, “Barangkali orang Indonesia kelak gampang masuk surga karena semangatnya (baca: heboh) untuk menyambut Ramadhan dan lebaran,” pungkas saya. (*)

